
nilai sebuah arti wacana yang terkandung dalam sebuah artikel sangat tergantung dari sebuah isi bahasan. Terkadang banyak sikap sentimentil terpaut dengan kepentingan pribadi atau pemikiran yang tersirat atas kekecewaannya terhadap sistem tertentu. Tak ayal banyak pula yang jengah dengan sikap fanatisme dan apatis
sekaligus yang terbungkus dalam satu paket kekecewaan mendalam dalam diri pembacanya.
Dalam beberapa referensi buku, flatform, website, artikel sudah tentunya, mengedepankan prmikiran kritis namun cenderung memojokan. Hingga lupa dengan etika penyampaian dengan dalih " Mengungkap Kebenaran Butuh Sebuah Kejujuran". Namun tersirat pandangan dan penilaian sendiri dengan menghalalkan hujah untuk mencukupi ambisi penyampaiannya. Alangkah baiknya, bila dengan tidak menyudutkan, maupun merendahkan golongan ataupun individu yang lain, akan memacu diri dapat mengembangkan pola pemikiran serta gaya penyampaian yang apik.
Tidakkah apa yang diutarakan mencerminkan hasrat yang tersirat ? Jika budaya semakin berkembang, dan pola makin berwarna, jangan menjadi alibi untuk mensahkan sentimen negatif kepada siapapun.
Keluwesan adalah proyektifitas sebuah gambaran luasnya pemahaman. Dan tabir yang tersirat memiliki kualitas yang baik bagi siapa saja. Dan pembaca mampu mengembangkan kembali wawasan yang dimilikinya.
Semoga bagi ahli dan kritikus terbaik akan semakin berkembang dengan tidak menyudutkan serta mendiskriminasikan dan juga merendahkan pihak lain, hanya dengan dalih apa yang diketahuinya sebagai kelaikan hujah.
ttd : Drie'must'Hendry
Published with Blogger-droid v2.0.6
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.