DESKRIPSI

awal (151) berita (64) blog (19) cerita (3) download (3) foto (15) hikmah (41) islam (38) kitab (3) puisi (5) sejarah (15) tehnologi (18) video (6)

Robert Dickson Crane Mualaf

Masa-masa Perang Dingin antara dua kekuatan superpower, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, merupakan masa yang menegangkan bagi kedua belah pihak. Kedua negara saling intip mencari
ke lemahan pihak lain. Kompetisi di antara keduanya juga tidak pernah selesai agar diakui sebagai kampiun dunia.

Persaingan senjata dan rudal, misil, sampai senjata kimia, juga tidak terela kan, keduanya saling mencari kelemah an agar bisa mengeluarkan produk ter canggih. Aroma persaingan yang tidak per nah berkesudahan itu ikut juga me nular kepada warga negara kedua su perpower tersebut. Amerika, yang me lambangkan demokrasi dan kapitalisme, dan Uni Soviet, yang melambangkan komunis dan sosialisme.

Seorang alumnus Universitas Har vard bernama Robert Dickson Crane me nulis pada akhir tahun 1962 ihwal stra tegi ruang angkasa Uni Soviet. Saat itu pecah krisis misil Kuba, dan Uni So viet memainkan perannya. Kuba adalah negara komunis yang menjadi satelit Uni Soviet.
Crane menulis panjang lebar pe rihal strategi perang psikis.

Menurutnya, apa yang dilakukan Uni Soviet dengan misil-misilnya di Kuba bukanlah untuk mengintimidasi Amerika atau memperagakan kecanggihan misil nya, tapi lebih pada konsolidasi kekuatan komunis di Kuba. Pemasangan misil ter sebut akan membuka dialog dan jamin an Amerika agar tidak mencampuri urus an dalam negeri Kuba dan pemim pin nya, Fidel Castro.

Tanpa dinyana, artikel tentang perang psikis dan misil itu dibaca oleh orang nomor satu Amerika Serikat saat itu, yaitu Richard Nixon, artikel tersebut dibacanya dalam penerbangan dari Cali fornia ke New York.
Menurut Crane, Presiden Nixon memanggilnya pada Januari 1963 dan bertanya kepadanya apakah dia bersedia menjadi penasihatnya un tuk urusan politik luar negeri.
Crane menerima tawaran menarik ter sebut dan memulai tugasnya dengan mengumpulkan bacaan-bacaan terkait politik luar negeri, perkembangan yang terjadi di negara-negara satelit Amerika, dan yang terpenting aktivitas blok ko munis yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Artikel-artikel pilihan yang telah di bacanya dibuat menjadi buku ringkas yang nantinya akan dibaca Presiden. Di samping itu Crane juga mempunyai mi nat yang kuat mempelajari agama-aga ma yang ada, termasuk agama Islam, karena dia dan Nixon berpikiran waktu itu bahwa agama, khususnya Islam, ada lah kekuatan yang bisa menghadang laju komunisme. Yang satu sangat meng agungkan Tuhan, sedangkan yang lain anti Tuhan.

Pada awalnya Crane beranggapan bahwa Islam adalah agama kaum primitif yang dalam benak pemeluknya selalu terdapat keinginan untuk membunuh orang Kristen. “Saya sangat muak dan ti dak pernah berhasrat mempelajari agama Islam, karena agama ini sangat primitif, begitu yang saya dengar. Tapi saya menasihati Nixon agar memper gunakan agama ini sebagai sekutu untuk melawan komunis,” demikian tuturnya kepada sebuah majalah di Amerika.
Pandangan Crane waktu itu terha dap Islam adalah pandangan umum warga Amerika terhadap Islam, yang dipenuhi prasangka dan stigma negatif tanpa berusaha mempelajarinya dengan jujur dan terbuka dari sumber aslinya.


  1. Skenario Allah

Allah SWT telah mempersiapkan ske nario terbaik untuk Robert Dickson Crane.
Pada era pemerintahan Ronald Reagan, dia diangkat menjadi duta besar Amerika Serikat untuk Uni Emirat Arab.
Pada tahun 1977 dia bersama istri nya mengadakan perjalanan ke Bahrain. Di tengah cuaca yang sangat panas me reka mengunjungi dan melihat-lihat Istana Al-Muharraq. Istana tersebut ber lokasi di kota yang sangat padat dan ramai dan terkenal sebagai kota dagang dunia. Hanya saja banyak sekali lorong sempit yang melingkupi tempat tersebut, dan lorong itu sangat semrawut.
Kondisi yang begitu semrawut membuat mereka tersesat ketika akan pu lang, mereka bingung dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Di tengah kebingungan tersebut seorang tua lewat dan memperhatikannya. Dan tahu bah wa orang asing itu tersesat, si orang tua mengajaknya mampir ke rumahnya. Ber sama istrinya Crane menghabiskan hari itu di rumah teman barunya itu. Sang tuan rumah menjamu mereka dengan ber bagai macam makanan dan mem perlakukannya dengan sangat baik.
"Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia se orang muslim. Saya sungguh terpesona, karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak membicarakan ihwal Islam, kami membicarakan apa yang baik di dunia, ten tang hal yang buruk di dunia, dan ten tang apa hal yang penting di dunia... tetapi tidak mengenai agama Islam,” tutur Crane mengenang momen itu.
Peristiwa tersebut menjadi kenangan yang sangat membekas dalam dirinya. Muncul banyak pertanyaan dalam lubuk hatinya yang terdalam, “Apakah saya perlu mempelajari Islam?” Selama itu ia hanya punya asumsi, tanpa mempelajari apa dan bagaimana Islam itu.

     2. Mengikuti Pertimbangan Rasio


Akhirnya dia mengikuti pertimbang an rasionya bahwa dalam menilai se suatu adalah tidak "fair" kalau tidak mengetahui secara jelas apa yang dinilai ter sebut. Maka mulailah Crane mem pelajari Islam.
Semakin dia belajar, semakin dia ter kesima bahwa Islam tidak seperti yang dia prasangkai selama itu. Islam sung guh luar biasa.
Pada tahun 1980, Crane berke sem patan mengikuti sebuah konferensi ten tang gerakan Islam di New Hampshire. Seluruh pemikir besar dari gerakan Islam dunia hadir di sana. Ketika waktu makan siang datang, Crane memilih bergabung dengan tamu-tamu dari seluruh dunia itu, yang ada dalam pikirannya adalah ke inginan untuk belajar dan menimba in formasi sebanyak mungkin dari mereka.
Tanpa banyak bertanya Crane ke mudian mengikuti langkah para tamu ter sebut ke sebuah ruangan yang lantainya ditutupi permadani.
Semula dia mengira bahwa mereka akan makan siang, na mun dia baru menyadari bahwa hari itu adalah hari Jum’at, para tamu tersebut akan menunaikan shalat Jum’at.
Saat itu Crane berpikir untuk mening galkan ruangan tersebut, tapi dia juga ber pikir bahwa hal itu akan menyinggung pe rasaan mereka. Lalu dia hanya duduk di bagian belakang. Yang menjadi khatib dan imam shalat Jum’at adalah Hasan Al-Turabi, seorang tokoh ternama gerak an Islam internasional asal Sudan. Se tiap menyaksikan Hasan Al-Turabi dan para jama’ah bersujud, Crane pun ter henyak dan dia tertunduk.
“Saya menyadari bahwa mereka mem bungkuk dan bersujud kepada Allah. Mereka mau bersujud kepada Allah, pasti mereka lebih baik daripada saya. Lalu kenapa saya tidak mau ber sujud kepada Allah? Qalbu saya seke tika bergetar dan saya harus juga mau bersujud. Orang yang baik saja masih bersujud, lalu apa saya merasa lebih baik dari mereka?”
Bulat sudah dalam pikirannya untuk juga bersujud kepada Allah, maka saat itu juga di tempat itu dia menyatakan diri untuk memeluk agama Islam dan meng ucapkan dua kalimah syahadat.
Sibuk Berdakwah
Setelah memeluk Islam, aktivitas Crane lebih terfokus kepada dakwah, dia sibuk memberikan seminar dan diskusi tentang Islam di banyak tempat, hampir semua negara bagian di Amerika. Siapa sangka, pria kelahiran Cambridge, Mas sachusetts, pada 26 Maret 1929, ini adalah duta dakwah Islam yang ampuh untuk saudara-saudaranya yang belum paham dan salah mengerti tentang Islam.
Crane jelas tidak dicurigai, karena dia asli Amerika dan datang dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Harvard dan ibunya pengajar dan penyokong finansial Universitas Northwestern, New Jersey.
Allah SWT akan membukakan mata me reka terhadap Islam, sama juga ke tika Allah SWT memberikan hidayah ke pada Umar bin Khaththab, yang awalnya juga memusuhi Islam. Semoga Islam akan terus bersinar di seantero dunia, di mana pun juga.
Kutip : majalah alkisah

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.