Dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani SpOG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara sejak 8 November 2013, dan dua rekannya dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian diduga melakukan kegiatan malapraktik.
Sehingga hal ini membuat ketiga dokter
tersebut mendapat gugatan hingga dipidanakan. Yang akhirnya bermunculan aksi solidaritas dokter seluruh Indonesia yang tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia) berupa aksi demo dipelbagai pelosok negri ini.
Aksi demo solidaritas para dokter yang tergabung IDI ini menuai pro dan kontra dari beberapa pihak salah satunya adalah dari anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka yang menuturkan bahwa, Mahkamah Agung memiliki alasan kuat saat memvonis penjara dr Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr Hendi Siagian, dan dr Hendry Simanjuntak.
"Salah satu alasan MA adalah, ketiganya masih berposisi pendidikan spesialis kandungan atau statusnya belum dokter spesialis saat melakukan operasi kandungan yang membuat Siska meninggal dunia," ujarnya dihadapan media Tribun, Rabu (27/11/2013).
Karenanya, menurutnya, otoritas Rumah Sakit Umum Daerah Kandou harus bisa menjelaskan kepada dokter yang mogok hari ini maupun masyarakat, perihal ada atau tidaknya "dokter senior" yang menyertai mereka saat mengoperasi Siska. "Tindakan medis yang dilakukan adalah kerja tim. Karenanya, kalau ketiga dokter pelajar itu divonis, masa dokter senior yang menjadi penanggung jawab 'praktik tindakan medis' itu tak dihukum," tuturnya.
Kalau perlu, lanjutnya politikus PDI Perjuangan ini, harus ada "persidangan terbuka" yang dikontrol oleh publik agar proses persidangan malapraktik berlangsung secara transparan.
Pada kesempatan lain, sebuah kritik terlontar pula dari salah satu politisi Fraksi Partai Demokrat DPRD Jawa Barat Didin menilai :"Menyampaikan aspirasi itu hak semua warga negara dan itu dijamin oleh undang-undang," kata dia. "Profesionalisme dokter itu erat kaitannya dengan aspek kemanusian dan aspek ini harus dikedepankan dalam kinerja mereka," kritk Didin dari Partai Demokrat DPRD Jawa Barat. "Coba kita bayangkan, apa jadinya kalau besok semua dokter mogok praktik. Wah, akan terganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas atau klinik," tambahnya pula.
Namun ternyata masalah ini tak cukup sampai disitu saja. Akibat demo yang diwacanakan sebagai aksi solidaritas, mengakibatkan pelayanan kesehatan diberbagai tempat dihampir seluruh Indonesia menjadi terbengkalai. Banyak pasien yang memerlukan tindakan medis menemui kesulitan. Dari yang sakit ringan hingga pasien yang mempunyai penyakit berat lainnya.
Salah satunya adalah aksi mogok yang digelar para dokter di Kendari pada hari kamis (27/11/2013) , Sulawesi Tenggara (Sultra). Aksi mogok ini menyebabkan pasien di salah satu rumah sakit setempat telantar.
Pasien yang bernama Eke (47), warga Kelurahan Anggilowu, Kecamatan Mandonga, Kendari, Sultra. Eke ketika hendak berobat di Rumah Sakit Abunawas, Kendari, menderita sesak napas, demam dan panas tinggi terpaksa harus kecewa dan menahan sakitnya oleh ulah dokter rumah sakit tersebut. Disebabkan tak ada satupun dokter yang bisa memeriksakan penyakitnya.
Eke menyatakan : “Sekitar pukul 07.00 Wita saya datang ke RS Abunawas, tapi petugas jaga rumah sakit tersebut meminta saya datang besok, karena semua dokter sedang menggelar aksi demo."
Dan Eke pun terpaksa pulang walau harus menahan rasa sakit yang dideritanya. Dan Eke sudah meminum obat yang bukan resep dokter atau obat warungan tetapi rasa sakit belum kunjung reda.
Berbeda dengan kondisi di Provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di Rumah Sakit Bahtermas, . Pihak rumah sakit tersebut tetap menyiapkan tiga dokter jaga di ruangan intensif gawat darurat (IGD) sebagai bentuk antisipasi pihak rumah sakit trrsebut
☞ hampir sekitar 500 orang dokter menggelar aksi mogok dengan mendatangi kantor Kejaksaan Tinggi dan gedung DPRD Sultra.
Ketiga dokter spesialis kandungan tersebut adalah terpidana dalam kasus malapraktik terhadap korban Julia Fransiska Makatey (25) pada tahun 2010. Dan sempat buron ketika itu hingga tertangkapnya.☜
Seharunya seorang dokter tersebut terikat dengan profesionalismenya dalam memberikan dan melayani kesehatan masyarakat alangkah lebih baiknya jika aksi mogok kerja tidak terjadi.
Reff : tribunnews.com
Sehingga hal ini membuat ketiga dokter
tersebut mendapat gugatan hingga dipidanakan. Yang akhirnya bermunculan aksi solidaritas dokter seluruh Indonesia yang tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia) berupa aksi demo dipelbagai pelosok negri ini.
Aksi demo solidaritas para dokter yang tergabung IDI ini menuai pro dan kontra dari beberapa pihak salah satunya adalah dari anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka yang menuturkan bahwa, Mahkamah Agung memiliki alasan kuat saat memvonis penjara dr Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr Hendi Siagian, dan dr Hendry Simanjuntak.
"Salah satu alasan MA adalah, ketiganya masih berposisi pendidikan spesialis kandungan atau statusnya belum dokter spesialis saat melakukan operasi kandungan yang membuat Siska meninggal dunia," ujarnya dihadapan media Tribun, Rabu (27/11/2013).
Karenanya, menurutnya, otoritas Rumah Sakit Umum Daerah Kandou harus bisa menjelaskan kepada dokter yang mogok hari ini maupun masyarakat, perihal ada atau tidaknya "dokter senior" yang menyertai mereka saat mengoperasi Siska. "Tindakan medis yang dilakukan adalah kerja tim. Karenanya, kalau ketiga dokter pelajar itu divonis, masa dokter senior yang menjadi penanggung jawab 'praktik tindakan medis' itu tak dihukum," tuturnya.
Kalau perlu, lanjutnya politikus PDI Perjuangan ini, harus ada "persidangan terbuka" yang dikontrol oleh publik agar proses persidangan malapraktik berlangsung secara transparan.
Pada kesempatan lain, sebuah kritik terlontar pula dari salah satu politisi Fraksi Partai Demokrat DPRD Jawa Barat Didin menilai :"Menyampaikan aspirasi itu hak semua warga negara dan itu dijamin oleh undang-undang," kata dia. "Profesionalisme dokter itu erat kaitannya dengan aspek kemanusian dan aspek ini harus dikedepankan dalam kinerja mereka," kritk Didin dari Partai Demokrat DPRD Jawa Barat. "Coba kita bayangkan, apa jadinya kalau besok semua dokter mogok praktik. Wah, akan terganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas atau klinik," tambahnya pula.
Namun ternyata masalah ini tak cukup sampai disitu saja. Akibat demo yang diwacanakan sebagai aksi solidaritas, mengakibatkan pelayanan kesehatan diberbagai tempat dihampir seluruh Indonesia menjadi terbengkalai. Banyak pasien yang memerlukan tindakan medis menemui kesulitan. Dari yang sakit ringan hingga pasien yang mempunyai penyakit berat lainnya.
Salah satunya adalah aksi mogok yang digelar para dokter di Kendari pada hari kamis (27/11/2013) , Sulawesi Tenggara (Sultra). Aksi mogok ini menyebabkan pasien di salah satu rumah sakit setempat telantar.
Pasien yang bernama Eke (47), warga Kelurahan Anggilowu, Kecamatan Mandonga, Kendari, Sultra. Eke ketika hendak berobat di Rumah Sakit Abunawas, Kendari, menderita sesak napas, demam dan panas tinggi terpaksa harus kecewa dan menahan sakitnya oleh ulah dokter rumah sakit tersebut. Disebabkan tak ada satupun dokter yang bisa memeriksakan penyakitnya.
Eke menyatakan : “Sekitar pukul 07.00 Wita saya datang ke RS Abunawas, tapi petugas jaga rumah sakit tersebut meminta saya datang besok, karena semua dokter sedang menggelar aksi demo."
Dan Eke pun terpaksa pulang walau harus menahan rasa sakit yang dideritanya. Dan Eke sudah meminum obat yang bukan resep dokter atau obat warungan tetapi rasa sakit belum kunjung reda.
Berbeda dengan kondisi di Provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di Rumah Sakit Bahtermas, . Pihak rumah sakit tersebut tetap menyiapkan tiga dokter jaga di ruangan intensif gawat darurat (IGD) sebagai bentuk antisipasi pihak rumah sakit trrsebut
☞ hampir sekitar 500 orang dokter menggelar aksi mogok dengan mendatangi kantor Kejaksaan Tinggi dan gedung DPRD Sultra.
Ketiga dokter spesialis kandungan tersebut adalah terpidana dalam kasus malapraktik terhadap korban Julia Fransiska Makatey (25) pada tahun 2010. Dan sempat buron ketika itu hingga tertangkapnya.☜
Seharunya seorang dokter tersebut terikat dengan profesionalismenya dalam memberikan dan melayani kesehatan masyarakat alangkah lebih baiknya jika aksi mogok kerja tidak terjadi.
Reff : tribunnews.com
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.