DALIL BOLEHNYA MENAMBAHI lafad DZIKIR DARI DZIKIR YANG WARID/DATANG DARI NABI SAW
------------------------------ -------------------------------------------------------------------------------
- Dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi berkata, "Pada suatu hari kami solat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan
: 'Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)'. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca: 'Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkat)'." Selesai solat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?" Orang itu menjawab, "Saya." Beliau bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut." (Sahih Bukhari, no. 757)
1.Berkata Ibnu hajar dalam fathul bari (2 / 287) ketika mengomentari hadis ini:
(استدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور
:Dan menjadi dalil dengan hadis ini akan bolehnya membuat bacaan dzikir dalam shalat dgn bacaan yg tdk ma'sur ketika bacaan tersebut tdk bertentangan dengan dzikir yg matsur.
2.Berkata imam syafii RA Dalam al um juz 1 dalam kitabussholah:
وإن قال غيرها من ذكر الله وتعظيمه لم يكن عليه فيه شيء إن شاء الله تعالى ، وكذلك إن قاله حيث لا آمره أن يقوله ولا يقطع ذكر الله الصلاة في أي حال ذكره
: Dan seandainya ia mengucapkan selainnya [matsur] daripada dzikir kepada Allah dan mengagungkan Allah ,maka itu tdk apa apa in syaallah,dan begitu juga kerika mengucapkannya dengan tdk ada yg memerintahkannya,dan dzikir tdk membatalkan sholat dalam keadaan apaapn dalam posisi shalat.
3.berkata ibnu abdil barr dalam at tamhid lima fil muwatho 16/198:
وفي حديث هذا الباب لمالك أيضا دليل على أن الذكر كله والتحميد والتمجيد ليس بكلام تفسد به الصلاة وأنه كله محمود في الصلاة المكتوبة والنافلة مستحب مرغوب فيه وفي حديث معاوية بن الحكم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "إن صلاتنا هذه لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هو التكبير والتسبيح والتهليل وتلاوة القرآن" فأطلق أنواع الذكر في الصلاة فدل على أن الحكم في الذكر غير الحكم في الكلام
:Dan di dalam hadis pada bab ini utk imam malik,juga merupalan dalil bahwa sesungguhnya seluruh dzikir dan tahmid,mengagungkan itu tdk termasuk perkataan yg membatalkan shalat,dan semua itu baik di baca dalam shalat fardu atau pun sunnah dan merupakan sesuatu yg mustahab,dan dalam hadis muawiyah bin al hakam dari Nabi saw sesungguhnya ia bersabda:“Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada pembicaran manusia. Sesungguhnya shalat adalah takbir dan bacaan Al Qur’an.” maka di mutlakan berbagai dzikir di dalam shalat,maka jelas hukum masalah dzikir dalam shalat tdk seperti hukum berbicara dalam shalat[selain dzikir]
4.pengakuan Nabi atas para shahabat yg membuat bacaan dalam shalat setelah bacaan yg di ajarkan nabi,itu menunjukan bolehnya ijtihad membuat dzikir ,bukan hanya pengakuan atas lafad yg di baca sahabat saja,karena al ibroh bi umuil lafdi la bi khususi sabab.
Berkata Ibnu rojab dalam syarahnya bukhari(4 / 348).:
فأما الثناء على الله : فمتفق على جوازه في الصلاة " ولذا من عجز عن الفاتحة شرع له الثناء على الله عز وجل ، ولذا كان الراجح في مسألة سؤال العبد عند المرور بآية رحمة أو عذاب في الفريضة أنه يجوز وإن كان ما ورد إنما هو في التطوع
: Dan adapun bacaan memuji Allah,maka sepakat atas bolehnya hal itu di dalam shalat,oleh sebab itu barangsiapa tdk mampu membaca alfatihah,maka berlaku baginya membaca pujian bagi Allah,oleh sebab itu maka yg rajih dalam doa permintaan hamba ketika membaca ayat adzab atau ayat rohmat dalam shalat fardu, sesungguhnya itu boleh walaupun yg warid;datang dari Nabi hal itu di lakukan dalam shalat sunnah.
------------------------------
- Dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi berkata, "Pada suatu hari kami solat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan
: 'Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)'. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca: 'Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkat)'." Selesai solat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?" Orang itu menjawab, "Saya." Beliau bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut." (Sahih Bukhari, no. 757)
1.Berkata Ibnu hajar dalam fathul bari (2 / 287) ketika mengomentari hadis ini:
(استدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور
:Dan menjadi dalil dengan hadis ini akan bolehnya membuat bacaan dzikir dalam shalat dgn bacaan yg tdk ma'sur ketika bacaan tersebut tdk bertentangan dengan dzikir yg matsur.
2.Berkata imam syafii RA Dalam al um juz 1 dalam kitabussholah:
وإن قال غيرها من ذكر الله وتعظيمه لم يكن عليه فيه شيء إن شاء الله تعالى ، وكذلك إن قاله حيث لا آمره أن يقوله ولا يقطع ذكر الله الصلاة في أي حال ذكره
: Dan seandainya ia mengucapkan selainnya [matsur] daripada dzikir kepada Allah dan mengagungkan Allah ,maka itu tdk apa apa in syaallah,dan begitu juga kerika mengucapkannya dengan tdk ada yg memerintahkannya,dan dzikir tdk membatalkan sholat dalam keadaan apaapn dalam posisi shalat.
3.berkata ibnu abdil barr dalam at tamhid lima fil muwatho 16/198:
وفي حديث هذا الباب لمالك أيضا دليل على أن الذكر كله والتحميد والتمجيد ليس بكلام تفسد به الصلاة وأنه كله محمود في الصلاة المكتوبة والنافلة مستحب مرغوب فيه وفي حديث معاوية بن الحكم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "إن صلاتنا هذه لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هو التكبير والتسبيح والتهليل وتلاوة القرآن" فأطلق أنواع الذكر في الصلاة فدل على أن الحكم في الذكر غير الحكم في الكلام
:Dan di dalam hadis pada bab ini utk imam malik,juga merupalan dalil bahwa sesungguhnya seluruh dzikir dan tahmid,mengagungkan itu tdk termasuk perkataan yg membatalkan shalat,dan semua itu baik di baca dalam shalat fardu atau pun sunnah dan merupakan sesuatu yg mustahab,dan dalam hadis muawiyah bin al hakam dari Nabi saw sesungguhnya ia bersabda:“Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada pembicaran manusia. Sesungguhnya shalat adalah takbir dan bacaan Al Qur’an.” maka di mutlakan berbagai dzikir di dalam shalat,maka jelas hukum masalah dzikir dalam shalat tdk seperti hukum berbicara dalam shalat[selain dzikir]
4.pengakuan Nabi atas para shahabat yg membuat bacaan dalam shalat setelah bacaan yg di ajarkan nabi,itu menunjukan bolehnya ijtihad membuat dzikir ,bukan hanya pengakuan atas lafad yg di baca sahabat saja,karena al ibroh bi umuil lafdi la bi khususi sabab.
Berkata Ibnu rojab dalam syarahnya bukhari(4 / 348).:
فأما الثناء على الله : فمتفق على جوازه في الصلاة " ولذا من عجز عن الفاتحة شرع له الثناء على الله عز وجل ، ولذا كان الراجح في مسألة سؤال العبد عند المرور بآية رحمة أو عذاب في الفريضة أنه يجوز وإن كان ما ورد إنما هو في التطوع
: Dan adapun bacaan memuji Allah,maka sepakat atas bolehnya hal itu di dalam shalat,oleh sebab itu barangsiapa tdk mampu membaca alfatihah,maka berlaku baginya membaca pujian bagi Allah,oleh sebab itu maka yg rajih dalam doa permintaan hamba ketika membaca ayat adzab atau ayat rohmat dalam shalat fardu, sesungguhnya itu boleh walaupun yg warid;datang dari Nabi hal itu di lakukan dalam shalat sunnah.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.