DESKRIPSI

awal (151) berita (64) blog (19) cerita (3) download (3) foto (15) hikmah (41) islam (38) kitab (3) puisi (5) sejarah (15) tehnologi (18) video (6)

Bentuk Sedekah Bagian 2

Sedangkan firman Allah ta’ala , wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa’aa, “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An Najm [53]:39). Ayat Al-Qur’an itu tidak menafikan adanya
kemanfaatan untuk
seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat itu hanya menafikan
“kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang
diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau,
maka dia boleh memberikannya atau mensedekahkannya kepada orang lain dan begitupula jika ia mau, dia boleh menetapkannya
untuk dirinya sendiri.
Jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti
“milik”. Sesunggunya ayat (QS An Najm [53]:39) terkait kuat dengan ayat sebelumnya yakni tentang dosa'bukan tentang pahala.
allaa taziru waaziratun wizra ukhraa, “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain” (QS An Najm [53]:38). Begitulah cara kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang kaum Zionis Yahudi menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) terhadap kaum muslim dengan menyebarluaskan potongan-potongan ayat-ayat Al Qur’an dan
Hadits untuk menimbulkan perpecahan di antara kaum muslim. Jadi sesungguhnya dalam bentuk lengkapnya
adalah “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa
yang telah diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya) Kemudian
akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)” (QS An Najm [53]:38 s/d 42).
Bersedekah doa ataukah menebus dosa ?
Kaum Yahudi sudah berhasil mensesatkan kaum Nasrani bahwa seseorang dapat menanggung
atau menebus dosa orang lain.
Padahal sudah dijelaskan ” Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima
berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya” (Jehezkiel 18:20). Dijelaskan bahwa kebaikan (pahala) dan kefasikan (dosa) adalah milik orang yang melakukannya. Kebaikan (pahala) dapat diberikan kepada orang
lain namun dosa tidak dapat diberikan atau ditanggung oleh orang lain.
Firman Allah ta’ala yang artinya
“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS Al Najm[53]:38).
“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain” (QS Al Israa [17]:15).
“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang
lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS Al Baqarah [2]:123).
Begitupula dalam syarah thahawiyah hal. 456,
bahwa ;
    **** awal kutipan ****
“ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan ” (QS Yaa Siin [36]:54)
Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah : “Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan ”. Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain.
    ***** akhir kutipan *****
Jadi jelaslah mereka yang tidak mau mengikuti para ulama yang sholeh yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan
cara mengikuti Imam Mazhab yang empat dan merasa atau mengaku di atas manhaj Salaf, telah menjadi perpanjangan tangan kaum Yahudi atau Zionis Yahudi untuk dibenturkan kepada
mayoritas kaum muslim yang tujuannya menghancurkan Ukhuwah Islamiyah. Marilah tegakkan ukhuwah islamiyah dengan kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan cara mengikuti Imam Mazhab empat

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.