DESKRIPSI

awal (151) berita (64) blog (19) cerita (3) download (3) foto (15) hikmah (41) islam (38) kitab (3) puisi (5) sejarah (15) tehnologi (18) video (6)

Dakwah Santun

Dulu, saya (blogger) merasakan sekali keindahan dan kesejukan islam dihampir pelosok daerah dan sebagian perkotaan. Orang-orang yang bersabar lagi taat beribadah, sehingga ingin rasanya mengikuti. Sifat menghargai dan memaklumi menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya. Serta terjalin silaturahiem yang kuat antar tetangga maupun antar kampung. Dapat dikatakan
, bila kita menanyakan rumah atau mencari seseorang yang kita kenal, maka banyak yang dapat menunjukan orang yang dimaksud atau tempat tinggalnya. Namun ada juga yang suka bersifat tak seperti saya sebutkan diatas, namun mereka itu hanyalah sekelompok minoritas. Dan menjadi cibiran orang-orang awam.
Para ahli ilmu ramai didatangi dan dihormati. Dan pencari ilmu berlomba memantapkan pengetahuannya dengan penuh keikhlasan serta kesederhanaan. Materi menjadi tonggak berdirinya syiar dan ibadah ditengah masyarakat. Yang berlebih dengan kekayaan, berlomba mengundang para ahli ilmu kenamaan dan meramaikan unsur keagamaan sebagai kebanggaan. Dan yang kurang dengan kekayaannya, sabar dalam keadaannya, dan ibadahnya menunjukan tak tergoyahnya iman karena keadaan.
Kini keadaan berubah dan berbalik arah keadaan. Tak seperti apa yang saya sebutkan diatas. Timbul perdebatan-perdebatan yang tak perlu,mempermasalahkan hal yang berkaitan dengan ibadah umum. Lebih parahnya, perdebatan itu timbul dari seorang yang mengaku ahli ilmu, namun sedikit memahaminya. Seperti kata pepatah orang tua terdahulu ; "Pada saatnya nanti, anak ayam pun dapat berkokok."
Banyak awam bicara keimanan dan menyudutkan secara terang-terangan dan menasehati orang dengan pengetahuan sedikit terlebih dengan pengalamannya. Sehingga lepas dari etika menyampaikan dan kecenderungan dengan mencontohkan. Terpaku dengan sebuah hadist :
"Sampaikanlah DARIKU (yakni dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) walau hanya satu ayat 1” [HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274], ▨▧▧ 
tanpa merujuk pada ayat ;
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”..  (An-Nahl : 125)
Berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, lalu berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang-orang yang tidak berbuat zhalim, kemudian berdebat dengan cara yang agak keras dan tegas kepada orang yang berbuat zhalim, sehingga tahapan dan proses dakwah melalui beberapa tahapan sebagaimana firman Allah:
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”
” (QS. Al-Ankabut: 46).
Seorang da’i harus mampu untuk berdakwah dan mengajak umat manusia kepada jalan Allah dengan penuh hikmah karena orang bodoh tidak seperti orang alim, dan orang yang membangkang tidak serupa dengan orang yang tunduk. Maka setiap keadaan memiliki cara tersendiri dan setiap kondisi memiliki langkah berbeda sehingga setiap langkah dan cara harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
S@lah satu contohnya adalah:
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, celaka aku!”, Beliau menjawab: “Apa yang membuatmu celaka?” Dia menjawab: “Aku menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadhan, padahal aku sedang puasa”, maka Nabi memerintahkan agar memerdekakan seorang budak, kemudian dia berkata: “Aku tidak mendapatinya”, kemudian beliau memerintahkan puasa dua bulan berturut-turut, dia berkata: “Aku tidak mampu” kemudian beliau memerintahkan agar memberi makan 60 orang miskin, maka dia berkata: “Aku tidak mampu”. Maka laki-laki tersebut duduk lalu Nabi diberi segantang kurma, dan beliau bersabda: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya”. Akan tetapi orang tersebut sangat berharap sikap murah hati Nabi dan beliau memang orang yang sangat dermawan dan murah hati kepada sesama manusia serta beliau orang yang paling murah hati di antara manusia. Lalu orang tersebut berkata: “Tidak ada orang yang lebih miskin dari saya wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada penduduk di antara dua gunung batu ini yang lebih miskin dariku.” Kemudian Nabi tersenyum hingga gigi taring atau geraham beliau tampak, karena orang tersebut datang dalam keadaan ketakutan dan berkata “Celaka aku” kemudian pergi dengan mendapat keuntungan. Maka Nabi bersabda: “Berilah makan keluargamu dengannya”, maka orang tersebut pergi dalam keadaan tenang, beruntung dan gembira dengan pentunjuk agama Islam dan dengan kemurahan hati seorang da’i pertama bagi agama Islam yaitu Muhammad– shalatullah wa salamuhu ‘alaih,-
Dilain kesempatan, Pernah ada seorang Arab badui masuk (ke mesjid), sementara Nabi sedang duduk-duduk bersama para sahabat di dalam masjid. Kemudian dia kencing di salah satu bagian tepi masjid, dan langsung para jamaah yang ada disekitar beliau menegurnya dengan keras namun Nabi melarang mereka menghardiknya karena beliau seorang manusia yang diberi hikmah oleh Allah. Sehabis seorang badui kecing maka beliau memerintahkan untuk menyiram bekas air kencing dengan seember air untuk menghilangkan najis, kemudian Rasul memanggil orang tersebut, dan bersabda kepadanya: “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak digunakan untuk membuang kotoran atau najis namun hanya untuk shalat dan membaca Al-Qur’an”. Sikap lemah lembut dari beliau melapangkan dada orang Arab badui. Saya mendapatkan riwayat dari sebagian ahli ilmu bahwa orang arab badui itu berdoa: “Ya Allah rahmatilah saya dan Muhammad dan jangan Engkau rahmati seorangpun selain kami”, karena Muhammad bersikap baik dan lemah lembut kepadanya. Adapun sahabat ridwanullah ‘alaihim, mereka tergesa-gesa dalam menghilangkan kemungkaran tanpa mempertimbangkan keadaan orang tersebut yang masih belum mengenal ilmu.
*** Sebuah nasihat tambahan dari Said Aqil Siroj mengatakan, jika umat Islam mampu menghargai dan melindungi minoritas, maka umat Islam sendiri akan mendapatkan simpati.
“Islam bukan sekedar soal akidah dan syariah, tetapi juga ada budaya, moral dan etika,” paparnya.
Tetapi jika umat Islam sendiri bersikap jumud, menggunakan cara-cara kekerasan, maka yang timbul adalah sikap antipati.
Ia menegaskan, dalam Al-Qur’an sendiri diperintahkan agar agama, nyawa dan martabat manusia dilindungi karena hal itu merupakan sesuatu yang suci, siapapun mereka. Jika kekerasan dilakukan oleh umat Islam, maka sama dengan mengotori kesucian umat Islam sendiri.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.