Pihak Inteligent Amerika Serikat dan Inggris tidak hanya menyadap telepon dan email untuk memata-matai disetiap target operasinya. Dari bocoran terbaru Edward Snowden, aksi intelijen dua negara ini juga
memata-matai aktivitas masyarakat divideo game online.
Snowden memaparkan informasi tersebut kebeberapa media seperti The Guardian, New York
Times dan ProPublika pada Senin, 9 Desember 2013, menurut pemberitaan BBC. Disebutkan, AS dan Inggris selama bertahun-tahun telah memata-matai game World of Warcraft (WoW) dan Second Life. Menurut data perusahaan pembuatnya, Blizzard, pada tahun 2010 ada 12 juta orang yang memainkan permainan ini. Para pemainnya diikuti mulai dari warga biasa hingga para diplomat, ilmuwan dan anggota militer.
Juru bicara Blizzard juga menambahkan dalam pernyataannya bahwa ia tidak
tau apakah ada agen rahasia asing yang menyusup. Jika memang ada, maka itu dilakukan tanpa
sepengetahuan atau izinnya
Dalam permainan online ini telah menarik jutaan orang dari seluruh penjuru negara dan dicurigai menjadi tempat para teroris beraktivitas. Dan diduga menjadi sarana rekruitmen dan pelatihan persenjataan secara virtual.
NSA (Badan Intelijen AS) dalam dokumen tersebut dinyatakan telah menyedot data dari WoW dan disinkronkan dengan data perdagangan senjata ilegal serta aktivitas para teroris di dunia nyata. Agen tersebut banyak diturunkan untuk menyamar, sehingga NSA pun membentuk kelompok anti bentrok mencegah para agen saling memata-matai.
Akibat bocoran mantan agen Snowden, kredibilitas penyedia layanan internet dan komputer dipertanyakan. Dalam upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat, Jumat lalu Microsoft mengatakan bahwa mereka telah memperkuat enskripsi untuk mencegah penyusupan mata-mata. Senin pekan ini, perusahaan-perusahaan seperti Google, Facebook, Yahoo, Apple, Twitter dan LinkedIn mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan negara-negara didunia untuk mengendalikan aktivitas mata-mata online mereka.
memata-matai aktivitas masyarakat divideo game online.
Snowden memaparkan informasi tersebut kebeberapa media seperti The Guardian, New York
Times dan ProPublika pada Senin, 9 Desember 2013, menurut pemberitaan BBC. Disebutkan, AS dan Inggris selama bertahun-tahun telah memata-matai game World of Warcraft (WoW) dan Second Life. Menurut data perusahaan pembuatnya, Blizzard, pada tahun 2010 ada 12 juta orang yang memainkan permainan ini. Para pemainnya diikuti mulai dari warga biasa hingga para diplomat, ilmuwan dan anggota militer.
Juru bicara Blizzard juga menambahkan dalam pernyataannya bahwa ia tidak
tau apakah ada agen rahasia asing yang menyusup. Jika memang ada, maka itu dilakukan tanpa
sepengetahuan atau izinnya
Dalam permainan online ini telah menarik jutaan orang dari seluruh penjuru negara dan dicurigai menjadi tempat para teroris beraktivitas. Dan diduga menjadi sarana rekruitmen dan pelatihan persenjataan secara virtual.
NSA (Badan Intelijen AS) dalam dokumen tersebut dinyatakan telah menyedot data dari WoW dan disinkronkan dengan data perdagangan senjata ilegal serta aktivitas para teroris di dunia nyata. Agen tersebut banyak diturunkan untuk menyamar, sehingga NSA pun membentuk kelompok anti bentrok mencegah para agen saling memata-matai.
Akibat bocoran mantan agen Snowden, kredibilitas penyedia layanan internet dan komputer dipertanyakan. Dalam upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat, Jumat lalu Microsoft mengatakan bahwa mereka telah memperkuat enskripsi untuk mencegah penyusupan mata-mata. Senin pekan ini, perusahaan-perusahaan seperti Google, Facebook, Yahoo, Apple, Twitter dan LinkedIn mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan negara-negara didunia untuk mengendalikan aktivitas mata-mata online mereka.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.